Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Air Paritta : Bhikkhu Khemaviro

Air Paritta


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Manopubbaṅgamā dhammā, manoseṭṭhā mano mayā
Manasā ce pasannena, bhāsati vā karoti vā
Tato naṁ sukkhamanveti, chāyā va anapāyinî

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin,
pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni,
maka kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.
(Dhammapada I:2)

      Air Paritta adalah air yang mendapatkan penguncaran paritta-paritta suci. Jadi, air yang ditempatkan di altar pada waktu puja bakti, umat menguncarkan paritta-paritta suci – berarti air yang ada di altar tersebut menjadi air paritta.

       Air kemasan dalam botol atau air yang ditempatkan di sebuah wadah (mangkok atau patta), kemudian bhikkhu atau samanera menguncarkan paritta-paritta suci, juga menjadi air paritta disebut air paritta.
      Yang menjadi pertanyaan di sini adalah, ‘apakah ada perbedaan antara air biasa dengan air paritta?’ Secara kasat mata, yang nampak adalah air paritta dan air biasa – tidak ada bedanya, bahkan ada peneliti, yang melakukan penelitian terhadap air paritta menyatakan bahwa: air paritta dan air biasa sama saja berdasarkan atas mineral-mineral yang di kandungnya.

       Berkaitan dengan penelitian terhadap air ini, sekitar tahun 2000, muncul seorang pakar air dari Jepang yaitu Dr. Masaru Emoto. Dengan keuletan, serta ketelitiannya juga dengan bantuan alat-alat canggih yang digunakan untuk melakukan penelitian, beliau mampu memotret kristal-kristal air. Beliau adalah seorang penemu untuk pertama kalinya mampu memotret kristal air.

      Dari hasil-hasil pemotretannya itu ternyata dia menemukan bahwa kristal-kristal air yang terbentuk berbeda-beda. Perbedaan tersebut ternyata berasal dari getaran ucapan yang diarahkan ke air. Pikiran benar yang diucapkan dan diarahkan ke air ternyata membentuk kristal-kristal air yang bagus dan indah. Sedangkan jika pikiran buruk, yang diarahkan ke air, diucapkan ke arah air, ternyata membentuk kristal-kristal air yang buruk dan jelek. Dari penelitian-penelitian air ini, muncul suatu pertanyaan demikian: apakah air mampu membedakan antara pikiran baik dan pikiran buruk yang diucapkan?

       Berdasarkan penelitian Dr. Masaru Emoto, jawabanya adalah ya! Terbukti dari terbentuknya kristal air yang baik ketika air mendapatkan getaran ucapan yang baik yang berasal dari pikiran yang baik. Sebaliknya, air akan membentuk kristal yang buruk ketika air mendapatkan getaran dari ucapan yang tidak bagus.

       Air paritta ini, untuk pertama kalinya dibuat oleh Sang Buddha, di Kota Vesali. Beliau tidak memerlukan alat-alat bantu yang canggih seperti mikroskop elektron, kamera otomatis, ruang pendingin, untuk membuktikan bahwa air paritta memang beda dengan air biasa. Tidak hanya beda, tetapi air paritta memiliki manfaat yaitu untuk pembersihan suasan tempat – sehingga tempat menjadi nyaman untuk dijadikan tempat tinggal atau tempat usaha.

       Untuk membedakan antara air biasa dengan air paritta, Beliau menggunakan alat super canggih yang dinamakan ”Iddhi” yaitu kekuatan super natural yang hanya bisa diperoleh kalau orang mampu mengembangkan ketenganan batin hingga mencapai tingkat ketenangan yang ke empat atau jhana ke empat.

       Dengan jhana ke empat inilah Sang Buddha melihat dengan jelas bahwa: ada perbedaan antara air biasa dengan air paritta, serta manfaat dari air paritta tersebut.

Sabbe Sattā Bhavantu Sukhitattā

 (17 Januari 2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar