Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Banyak Cara Untuk Berbuat Kebaikan : Bhikkhu Cittanando

Banyak Cara Untuk Berbuat Kebaikan


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Yathā pi puppharāsimhā, kayirā mālāguṇe bahū
Evaṁ jātena maccena, kattabbaṁ kusalaṁ bahuṁ
Seperti dari setumpuk bunga-bunga dapat dibuat banyak karangan bunga,
demikian pula hendaknya banyak kebajikan yang dapat
dilakukan oleh manusia di dunia ini.
(Dhammapada IV:10)

Kelahiran kita di alam manusia seperti sekarang ini karena kekuatan buah kebajikan di masa lampau, minimal mempunyai kebajikan moralitas atau Pañcasīla Buddhis. Tanpa adanya buah kebajikan itu, sangat sulit bahkan tidak mungkin seseorang dapat terlahir di alam manusia ini. Oleh karena itu, sesulit apapun atau sebahagia apapun kondisi kita pada saat ini, seharusnya tidak melupakan perbuatan-perbuatan baik agar dapat meningkatkan kualitas hidup kita menjadi lebih bahagia dan lebih baik lagi. Kualitas hidup itu dapat diraih hanya dengan berbuat baik, dan berbuat baik itulah sesungguhnya praktik Dhamma.

Ketika mendengar anjuran praktik Dhamma, mungkin bagi beberapa orang hal ini kadang-kadang terdengar begitu sulit. Mungkin saja mereka berpikir. ”Oh, kalau begitu saya harus menjadi bhikkhu, tinggal di vihara atau tinggal di hutan dan sebagainya”. Padahal sebenarnya, praktik Dhamma tidak hanya untuk bhikkhu saja, melainkan untuk kebutuhan semua orang.

Untuk itu, perlu adanya pemahaman untuk mewujudkan keseimbangan dan keharmonisan hidup. Umat Buddha tidaklah cukup hanya membaca buku Dhamma, begitu pula dengan hanya memiliki suatu pengetahuan teoritis Buddha Dhamma. Juga sebaliknya, tidaklah cukup secara membuta mengikuti tradisi Buddhisme tanpa suatu pengetahuan akan makna yang sesungguhnya. Setelah pemahaman itu dimiliki oleh seorang umat Buddha, maka ia pun akan menyadari bahwa kelahiran di alam manusia ini merupakan keberkahan dan kesempatan emas bagi dirinya yang telah menemukan ajaran Sang Buddha. Hal tersebut dikarenakan dapat terlahir sebagai manusia saja sangat sulit, apalagi dapat menemukan ajaran Dhamma dari seorang Buddha. Setelah kita belajar dari ajaran Dhamma itu, seseorang akan menjadi bijaksana, ia seharusnya juga mengumpulkan banyak jasa kebajikan, seperti sekumpulan bunga-bunga yang dapat dirangkai menjadi banyak karangan bunga, demikian pula hendaknya banyak kebajikan yang dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini.

Dalam kehidupan sehari-hari pun terdapat banyak cara untuk melakukan kebajikan yang berarti juga mempraktikkan Dhamma, diantaranya berbuat baik dengan: 

1. Dānamaya: berbuat kebaikan dengan jalan berdana,
2. Sῑlamaya: berbuat kebaikan dengan jalan melaksanakan sīla,
3. Bhāvanāmaya: berbuat kebaikan dengan jalan melaksanakan meditasi,
4. Apacāyanamaya: berbuat kebaikan dengan jalan merendahkan diri,
5. Veyyāvacamaya: berbuat kebaikan dengan jalan membalas membantu,
6. Pattidānamaya: berbuat kebaikan dengan jalan membagikan sesuatu kepada orang lain,
7. Pattānumodanāmaya: berbuat kebaikan dengan jalan merasa gembira melihat kebaikan orang lain,
8. Dhammassavanamaya: berbuat kebaikan dengan jalan mendengarkan dan belajar Dhamma,
9. Dhammadesanāmaya: berbuat kebaikan dengan jalan mengajarkan Dhamma,
10. Diṭṭhujukamma: berbuat kebaikan dengan jalan mempunyai pandangan benar.

Sepuluh cara untuk berbuat baik ini merupakan tuntunan bagi setiap orang di dalam mempraktikkan Dhamma.

Di dalam Aṅguttara Nikāya, Sang Buddha menjelaskan manfaat atau buah dari perbuatan berjasa. Ada lima hal yang diinginkan, dicintai dan disukai tetapi jarang diperoleh di dunia ini yang merupakan buah kebajikan. Apakah yang lima itu? Umur panjang, keelokan, kebahagiaan, kemashyuran dan kelahiran ulang di surga. Tetapi dari lima hal itu, Sang Buddha tidak mengajarkan bahwa kelimanya harus dicapai lewat doa atau lewat sumpah. Seandainya saja orang dapat memperolehnya lewat doa atau sumpah, siapa yang tidak akan memperolehnya? Akan tetapi bagi seorang siswa agung yang menginginkan kehidupan yang panjang, keelokan, kebahagiaan, kemashyuran dan kelahiran ulang di surga, tidaklah sesuai bila seseorang berdoa untuk hal-hal itu atau bergembira dalam melakukannya. Sebaiknya, seseorang justru mengikuti jalan kehidupan yang menopang untuk kehidupan yang panjang, keelokan, kebahagiaan, kemashyuran dan kelahiran ulang di surga. Dengan mengikuti jalan itu, seseorang akan memperoleh kehidupan yang panjang, keelokan, kebahagiaan, kemashyuran dan kelahiran ulang di surga.”

Setelah umat Buddha dapat melakukan perbuatan baik di alam manusia ini, hendaknya juga harus menyadari dan tidak seharusnya berhenti pada kebajikan duniawi saja, karena sesungguhnya masih ada kebajikan yang lebih tinggi dan luhur. Meskipun kebajikan duniawi akan mendatangkan umur panjang, kebahagiaan, keelokan, kemashyuran, kelahiran ulang di alam bahagia dan sebagainya. Kebajikan itu masih mengalami perubahan atau tidak kekal (anicca), menimbulkan ketidakpuasan (dukkha), serta bukan aku (anattā). Oleh karena itu, seberapa banyak pun keuntungan, kebahagiaan, keberhasilan yang telah diperoleh dari buah kebajikan itu masih ada batasnya, dan si pembuat kebajikan pun dapat merosot pada kondisi-kondisi yang tidak menguntungkan dan mendatangkan penderitaan.

Untuk mengakhiri penderitaan itu, Sang Buddha telah menunjukkan Jalan Tengah yang menganjurkan cara hidup yang benar. Jalan yang mengantarkan seseorang mencapai pembebasan akhir penderitaan dan kelahiran kembali. Jalan Tengah itu terdiri dari:

1. Sammā-diṭṭhi: memiliki pengertian yang benar tentang Empat Kesunyataan Mulia,

2. Sammā-sakappa: pikiran yang benar untuk waspada melenyapkan pikiran yang jahat dan mengembangkan pikiran yang baik,

3. Sammā-vācā: selalu bicara benar, jujur, dan ramah,

4. Sammā-kammanta: memiliki perbuatan yang benar melalui badan,

5. Sammā-ājiva: memiliki mata pencaharian yang benar,

6. Sammā-vāyāma: selalu berdaya upaya yang benar, selalu menjaga agar pikiran yang jahat tidak muncul dan pikiran yang baik dapat muncul,

7. Sammā-sati: memiliki perhatian yang benar dan tepat terhadap apapun yang dihadapi,

8. Sammā-samādhi: memiliki samādhi yang benar untuk mencapai kebijaksanaan.


Dalam kehidupan umumnya dilaksanakan bertahap melalui sīla (3, 4, 5), samādhi (6, 7, 8), dan paññā (1, 2). Jadi ketiga ini tidak dapat dipisahkan karena merupakan satu jalan. Hanya dalam hal mana yang lebih menonjol saja dapat dikatakan melaksanakan sīla, me1aksanakan samādhi atau melaksanakan paññā.

(22 November 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar