Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Hukum Kamma : Bhikkhu Khemaviro

Hukum Kamma


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Kalau kita melakukan perbuatan yang buruk melalui ucapan, badan jasmani, dan pikiran, maka hasilnya pun buruk atau akibatnya buruk. Sebaliknya, apabila kehendak, yang mendasari perbuatan itu “benar” (baik), maka dari kehendak yang baik akan muncul ucapan yang baik (benar), perbuatan jasmani yang benar, dan pikiran yang benar, maka hasilnya pun bahagia, tenang, dan tentram.
Hukum kamma ini adalah hukum alam, ada lima hukum alam yaitu:

1. Bija niyama

Bija niyama adalah hukum alam yang berkaitan dengan bijibijian. Dari bakal tanaman ini akan tumbuh tanaman, lengkap dengan batang, daun, bunga, dan buah. Tetapi ada juga tanaman yang tidak menghasilkan bunga dan juga tidak menghasilkan buah.

2. Utu niyama

Utu niyama adalah hukum alam yang berkaitan dengan utu (suhu/cuaca). Di dunia ini ada daerah yang mengalami musim salju (hujan es). Kalau di daerah tropis daerah panas, tidak ada hujan salju, di daerah tropis, yang ada hanya musim hujan, musim dingin, dan musim kemarau. Utu niyama juga berhubungan dengan kapan musim hujan, kapan musim kemarau, dan kapan musim dingin.

3. Citta niyama

Citta niyama adalah hukum alam yang berhubungan dengan citta (pikiran). Pikiran adalah suatu keadaan yang selalu menerima dan memikir objek.

4. Kamma niyama

Kamma niyama adalah hukum alam yang berkaitan dengan kamma (perbuatan). Perbuatan ada tiga, yaitu:
a. Perbuatan benar
b. Perbuatan tidak benar
c. Perbuatan netral
Perbuatan netral hanya dilakukan oleh para Arahat yang telah bebas dari lobha, dosa, dan moha.

5. Dhamma niyama

Dhamma niyama adalah hukum alam yang berkaitan dengan hal-hal yang gaib. Contoh: turunnya hujan hangat (panas) dan dingin untuk memandikan Bodhisatta Gotama ketika Beliau terlahir di dunia, juga munculnya gempa bumi yang dahsyat dan mengerikan ketika Sang Buddha mengambil keputusan untuk memasuki nibbāna.

Hukum-hukum alam ini hanya ditemukan kembali oleh para Buddha. Memang ada saatnya Dhamma dilupakan oleh umat manusia. Kalau tidak ada lagi yang mempraktikkan Dhamma, maka keadaan menjadi kacau, usia kehidupan menjadi pendek, pencurian, pembunuhan, kebohongan, fitnah merajalela, orang minum-minuman yang memabukkan sampai hilang ingatan, mudah marah, maka muncullah perkelahian, pembunuhan, keadaan menjadi semrawut tidak menentu.

Para Buddha muncul di dunia untuk menemukan kembali hukum-hukum alam tersebut. Kita perlu mempelajari hukum-hukum alam tersebut supaya kita berbahagia.

Dalam kitab Dhammapada, Sang Buddha mengatakan bahwa: ”Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk, bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti jejak kaki lembu yang menariknya.” (Dhammapada, 1)

Sebaliknya, Sang Buddha juga mengatakan demikian: ”Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk, bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran baik, maka kebahagiaan akan mengikutinya, bagaikan bayang-bayang yang tidak pernah meninggalkan bendanya.” (Dhammapada, 2)

Dari kedua syair ini dapat disimpulkan bahwa: lebih baik kita bahagia daripada menderita. Kebahagiaan seperti panjang usia, sehat, wajah cantik/ganteng, juga harta benda melimpah, semuanya didapat dari melakukan perbuatan baik melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan.

Oleh karena itu, setelah mengenal Dhamma ini, maka tugas kita sebagai umat Buddha adalah selalu melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti: mempraktikkan sila, melatih samādhi, juga tidak lupa menunjang kehidupan para bhikkhu. Mereka yang tekun mempelajari dan mempraktikkan Dhamma dengan tujuan untuk memperoleh kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaan inilah kita mengikis kekotoran batin sehingga bisa bebas dari penderitaan dan hidup bahagia dalam kehidupan ini juga.

Selamat melakukan perbuatan-perbuatan benar sehingga kita memperoleh buah-buah yang membahagiakan dalam kehidupan ini seperti kesehatan, panjang usia, wajah cantik, wajah yang enak dipandang dan harta benda yang melimpah. 

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā
Semoga semua makhluk hidup berbahagia
Oleh: Bhikkhu Khemaviro (15 November 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar