Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Jalan Menuju Kebaikan : Bhikkhu Cittanando

Jalan Menuju Kebaikan


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Terdapat banyak macam kebaikan, namun jika kita tidak pernah mempraktikkannya, kita tidak akan pernah menjadi baik. Bila kita memutuskan akan melakukan kebaikan, maka kita harus mengisi diri dengan keyakinan dan pikiran yang mantap, tetap tenang, berkepala dingin, berpandangan ke depan, dan mempunyai ketekunan. Oleh karena itu kita harus gembira dengan apa yang kita lakukan, tidak mudah menyerah, melainkan harus memiliki kemauan kuat dan keyakinan terhadap apa yang kita lakukan.

Kebaikan muncul sebagai ucapan atau pikiran di dalam batin kita. Sang Buddha berkata bahwa hidup kita ini berasal dari perasaan kita. Pikiran adalah akar dari segalanya. Hidup kita pada dasarnya berproses menurut bagaimana perasaan dan pikiran kita. Bila batin memiliki pikiran yang baik, Anda akan merasa lebih bijaksana dan mengetahui apa yang harus dilakukan. Anda akan merasa berani, bersemangat, dan melakukan pekerjaan dengan senang hati, dan akan tumbuh rasa percaya diri Anda untuk melakukan kebajikan hingga Anda tidak memerlukan lagi dorongan atau pujian dari orang lain.

Sang Buddha berkata bahwa melakukan kebaikan adalah baik, dan melakukan kejahatan adalah buruk. Adalah lebih baik tidak melakukan kejahatan walaupun kecil, karena ia akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Bila ada kesempatan walau hanya kesempatan kecil untuk melakukan kebaikan, coba dan lakukanlah itu; maka kebahagiaan akan Anda dapatkan. Melakukan kebaikan memang sulit, oleh karena itu, kita harus mengerahkan energi dan usaha. Dalam melakukan kebaikan kita harus mengusahakan diri kita melawan arus duniawi, dan melawan kekotoran batin (kilesa). Kita harus memaksa diri kita untuk tidak melakukan apa yang biasa kita lakukan. Pada mulanya kita harus memaksa diri kita, tetapi kemudian akan menjadi lebih mudah dan pada akhirnya menjadi suatu kebiasaan. Bila ini terjadi, Anda akan merasa lebih nyaman dan tenang dalam batin dan jasmani.

Bila Anda berhasil mengontrol pikiran, Anda akan merasa segar dan mampu melakukan tugas dengan lebih baik melalui badan, pikiran, atau ucapan. Usahakan hindari melakukan perbuatan buruk, dan kembangkanlah kebajikan Anda. Terdapat tiga cara untuk menghindari perbuatan salah dari perbuatan jasmani, yaitu:

1. Pāṇātipāta veramaṇῑ ―tidak membunuh atau melukai makhluk lain.
2. Adinnādānā veramaṇῑ ―tidak mencuri milik orang lain.
3. Kāmesumichācāra veramaṇῑ ―tidak melakukan hubungan seksual yang salah, dan tidak melakukan selingkuh dengan suami atau istri orang lain. Suami atau istri harus setia satu sama lain. Tiap suami harus hanya punya satu istri dan demikian pula sebaliknya. Jika salah satu meninggal dunia, maka baru kemudian yang lainnya dapat menikah. Punyailah tingkah laku yang baik.

Seperti ketiga perbuatan jasmani, terdapat pula cara untuk menghindari ucapan salah. Inilah vacikamma, empat perbuatan melalui ucapan:

1. Musāvādā veramaṇῑ ―tidak berkata bohong atau salah.
2. Pisuṇāvācā veramaṇῑ ―tidak menggunakan ucapan yang memfitnah atau tidak menyenangkan.
3. Pharusāya vācāya veramaṇῑ ―tidak mengucapkan kata-kata yang kasar. Perkataan tidak hanya harus benar, tetapi juga harus enak didengar dan dapat menciptakan harmoni pada pendengar. Sang Buddha mengajarkan bahwa ucapan haruslah tidak keras atau kasar.
4. Samphappalāpa veramaṇῑ ―menghindari obrolan kosong dan percakapan yang tidak karuan, atau berbicara tanpa tujuan.

Mempraktikkan ucapan yang baik dan benar dapat diawali kepada anak sendiri, saudara-saudara kita, dan juga kepada setiap orang; bahkan kepada orang-orang yang tidak kita sukai. Lakukan itu setiap waktu, tidak hanya sekarang atau nanti. Ucapan Anda harus membuat orang lain tenang dan relaks, dan merasa bergairah untuk melakukan kebaikan.

Topik terakhir adalah manokamma, tiga perbuatan melalui pikiran. Ada tiga jalan yang mengakibatkan batin menjadi tak berguna:

1. Ketamakan (abhijjhā) ―serakah dan iri hati.
2. Keinginan jahat (byāpāda) ―kemarahan, kebencian, dendam, ketidaksukaan.
3. Pandangan salah (micchādiññhi) ―seperti misalnya kepercayaan bahwa tidak ada surga atau neraka, atau tidak ada jalan menuju Nibbāna (pelenyapan dari semua kekotoran dan penderitaan).

Perbuatan jahat atau salah (pāpa) dan perbuatan yang benar atau baik (puñña) adalah sangat nyata. 
Orang yang mengerti hal ini akan berubah dari berpandangan salah menjadi berpandangan benar (sammādiṭṭhi). Orang ini percaya akan adanya kebaikan dan keburukan/kejahatan, perbuatan baik (karma baik) dan perbuatan buruk/jahat (karma buruk). 
Dia mengerti hubungan atau hukum sebab-akibat, Empat Kebenaran Mulia (Ariyasacca), penderitaan (dukkha), dan penyebab penderitaan (samudaya), dimana penyebabnya adalah ketidaktahuan atau khayalan (avijjā), nafsu atau keinginan (tanha), dan kemelekatan, keterikatan, atau ketamakan (upadana).  
Jika kita percaya pada kamma, maka kita percaya kita dapat menghindari penyebab penderitaan (samudaya), dan menghindari sang 'aku' (atta), keinginan (tanha), dan keterikatan atau kemelekatan (upadana). 
 Setelah kita dapat melepaskan semuanya itu, kita akan merasa baik, bersih, murni, dan damai.

Jika kita mengembangkan tiga kamma; tiga perbuatan melalui jasmani, empat perbuatan melalui ucapan, dan tiga perbuatan melalui pikiran, maka kita akan maju sebagaimana mestinya. Kamma-kamma inilah yang harus kita jalankan dalam hidup kita. 

Seseorang dengan pandangan benar (sammādiṭṭhi) tahu bagaimana berpikir, dan orang yang berpandangan salah (micchādiṭṭhi) tidak tahu bagaimana berpikir. 

Beberapa orang mempunyai pikiran benar, dan beberapa mempunyai pikiran salah yang menyebabkan noda dan ketidakbahagiaan.

Kebaikan dan nilai dalam hidup kita tergantung kepada kita dan kepada apa yang kita lakukan. Kitalah satu-satunya pengontrol atau pengendali hidup kita, apakah kita ingin bahagia atau menderita, ingin maju atau mundur. Apabila kita telah memutuskan untuk melakukan hanya kebaikan, maka kita dapat mengikuti jalan menuju kebaikan dan kebahagiaan hidup.

(07 Juni 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar