Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

KEMELEKATAN : Bhikkhu Abhicitto

KEMELEKATAN

Ratiyā jāyati soko, ratiyā jāyati bhayaṁ
Ratiyā vippamuttassa, natthi soko kuto bhayaṁ

Dari kemelekatan timbul kesedihan, dari kemelekatan timbul ketakutan.
Bagi orang yang telah bebas dari kemelekatan, tidak ada lagi kesedihan maupun ketakutan.
(Dhammapada 214)

Sering kali kita terlalu melekat pada sesuatu yang tidak semestinya dan yang sebenarnya sudah tidak diperlukan, seperti pakaian, sepatu, sandal yang sudah tidak dipakai sampai barang-barang bekas lainnya. Akhirnya barang-barang tersebut hanya menjadi penghias rumah. Apabila kita enggan untuk melepaskannya maka rumah yang kita tempati akan serasa seperti gudang barang bekas.

Kebiasaan menyimpan barang-barang tersebut hanya membuat rumah kita menjadi tempat sampah. Kalau barang-barang tersebut sudah tidak digunakan dan kita sulit untuk melepaskannya, maka untuk berbuat baik pasti sangat berat sekali. Padahal barang bekas itu akan bermanfaat apabila diberikan kepada orang yang membutuhkan, ketimbang menjadi sampah di dalam rumah.

Kalau kita tidak pernah siap untuk melepaskan kepemilikan, maka suatu saat ketika kita kehilangan sesuatu yang disayangi, maka kita akan kecewa. Dhammapada Atthakatha mengisahkan tentang seorang Thera yang melekat pada jubahnya.

Kisahnya berikut ini:
Suatu saat seorang Thera bernama Tissa tinggal di Savatthi. Pada suatu hari, ia menerima seperangkat jubah yang bagus dan merasa sangat senang. Ia bermaksud mengenakan jubah tersebut keesokan harinya. Tetapi pada malam hari ia meninggal dunia.

Karena melekat pada seperangkat jubah yang bagus itu, ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal di dalam lipatan jubah tersebut.  

Karena tidak ada orang yang mewarisi benda miliknya, diputuskan bahwa seperangkat jubah tersebut akan dibagi bersama oleh bhikkhu-bhikkhu yang lain.
Ketika para bhikkhu sedang bersiap untuk membagi jubah di antara mereka, si kutu sangat marah dan berteriak, "Mereka sedang merusak jubahku!"

Teriakan ini didengar oleh Sang Buddha dengan kemampuan pendengaran luar biasa Beliau. Maka Beliau mengirim seseorang untuk menghentikan perbuatan para bhikkhu dan memberi petunjuk kepada mereka untuk menyelesaikan masalah jubah itu setelah tujuh hari. Pada hari ke delapan, seperangkat jubah milik Tissa Thera itu dibagi oleh para bhikkhu.

Kemudian Sang Buddha ditanya oleh para bhikkhu mengapa Beliau menyuruh mereka menunggu selama tujuh hari sebelum melakukan pembagian jubah Tissa Thera.

Kepada mereka Sang Buddha berkata, "Murid-murid-Ku, pikiran Tissa melekat pada seperangkat jubah itu pada saat dia meninggal dunia, dan karena hal itu ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal dalam lipatan jubah tersebut.
Ketika engkau semua bersiap untuk membagi jubah itu, Tissa si kutu sangatlah menderita dan berlarian tak tentu arah dalam lipatan jubah itu.

Jika engkau mengambil jubah tersebut pada saat itu, Tissa si kutu akan merasa sangat membencimu dan ia akan terlahir di alam neraka (niraya). Tetapi sekarang Tissa telah bertumimbal lahir di alam dewa Tusita, dan sebab itu Aku memperbolehkan engkau mengambil jubah tersebut.

"Sebenarnya, para bhikkhu, kemelekatan sangatlah berbahaya, seperti karat merusak besi di mana ia terbentuk, begitu pula kemelekatan menghancurkan seseorang dan mengirimnya ke alam neraka (Niraya). Seorang bhikkhu sebaiknya tidak terlalu menuruti kehendak atau melekat dalam pemakaian empat kebutuhan pokok".
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 240 berikut:

Bagaikan karat yang timbul dari besi, bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri, begitu pula perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk akan menjerumuskan pelakunya ke alam kehidupan yang menyedihkan. (Dhammapada XVIII. 3)

Kita harus menyadari bahwa hidup ini tidak selalu sesuai dengan kehendak sendiri.

Pada suatu saat semua yang kita miliki akhirnya akan ditinggalkan.

Jangankan barang-barang yang disayangi, orang-orang yang kita cintai pun kita tinggalkan, demikian pula jasmani yang kita rawat tiap hari.

Jadi, belajarlah melepaskan sebelum mereka yang meninggalkan kita atau kita yang meninggalkannya.
Belajarlah melepas yang kecil-kecil dahulu dengan berdana, sampai pada saatnya dapat melepaskan yang lebih tinggi yaitu kekotoran batin seperti keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin.

Kekotoran batin adalah kilesa yang menyebabkan manusia dicengkeram oleh ketidakpuasan.

Oleh karenanya, jadikan melepas sebagai latihan dalam keseharian agar kita terlatih dalam menyikapi hidup dan kehidupan.
Kalau ada rasa sayang untuk melepas, ingatlah cerita di atas dan bahayanya.

Oleh: Bhikkhu Abhicitto (13 Februari 2011)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar