Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Membangun Kesejahteraan dan Kebahagiaan : Bhikkhu Silagutto

Membangun Kesejahteraan dan Kebahagiaan


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Dhammañ care sucaritaṁ, na taṁ duccaritaṁ care
Dhammacārã sukhaṁ seti, asmiṁ loke paramhi ca

Jalankanlah praktik hidup yang benar dan janganlah menjalankan praktik hidup yang salah.
Barang siapa yang hidup sesuai dengan Dhamma,
akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia berikutnya.
(Dhammapada 169)


Kalau kita perhatikan, perjuangan bangsa Indonesia mulai jaman perjuangan kemerdekaan hingga saat ini, maka banyak perubahan yang terjadi, terutama kita saksikan kemajuan pembangunan di bidang fisik yang bisa kita saksikan sekarang ini, seperti jembatan yang panjang, pabrik-pabrik, gedung bertingkat, jalan tol, rumah sakit, sekolah-sekolah, dan sebagainya. Begitu pula pemerintah sudah berhasil memasyarakatkan pendidikan dan menjadikan masyarakat hampir semua terdidik (tidak buta huruf), bahkan sekarang ini masyarakat di desa-desa bisa baca tulis. Sekarang ini yang namanya sarjana-sarjana sudah banyak sekali. Kalau jaman dulu pendidikan tidak begitu banyak, bahkan yang tidak bisa baca tulis pun banyak, sarjana-sarjana bisa dihitung dengan jari.

Tetapi, hidup sesuai Dhamma belum memasyarakat, atau Dhamma ini belum memasyarakat. Sampai saat ini, kita masih saksikan tindak kejahatan selalu mewarnai media informasi. Sebagai anggota masyarakat, tentu kita semua merasa sangat prihatin melihat kekerasan, pertikaian, ataupun perang yang terjadi selama ini. Setiap kekerasan selalu menimbulkan korban jiwa, seolah-olah kehidupan makhluk hidup sudah tidak ada harganya lagi. Kejahatan sekarang ini sudah cukup mengkhawatirkan, baik itu kejahatan mulai dari yang kasar, makin halus, makin terselubung, makin lihai, ataupun yang makin canggih.

Moral adalah pondasi kehidupan kita, tanpa menjalankan moral yang baik, maka hidup kita tidak akan bahagia. ”Sebagai upasāka/upasῑka melaksanakan pañcasῑla, yaitu menghindari pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, berbohong, dan memakan/meminum yang dapat melemahkan kesadaran, maka ia adalah upasāka/upasῑka yang baik.” Tentu kita boleh bangga dengan kemajuan di bidang fisik dan pendidikan, tetapi di bidang moral kita belum berhasil. Memang pembangunan di bidang fisik itu penting, tetapi jangan mengabaikan moral dan hidup sesuai Dhamma. Jika hal ini bisa memasyarakat, hidup kita pun penuh dengan kedamaian. Langkah terawal dalam mencari kebahagiaan adalah belajar. Pertama kita harus belajar bagaimana kebiasaan dan emosi negatif hanya menyakiti kita dan emosi positif membantu kita. Kita juga harus mengerti bahwa emosi-emosi negatif tidak hanya menyakiti kita saja, tetapi juga masyarakat dan masa depan dunia ini, ’kebahagiaan ada di tangan kita sendiri’.

Saya rasa hampir semua lapisan dari atas, menengah, sampai bawah, yang pejabat, rohaniwan, maupun rakyat biasa, harus serentak membangun kualitas moral dan hidup sesuai Dhamma dengan sungguh-sungguh. Hanya dengan demikian bangsa ini menjadi berhasil membangun di segala bidang.

Ada empat hal yang membawa pada kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seorang perumah tangga di dalam kehidupan yang sekarang ini. Apakah empat hal itu?

1. Pencapaian usaha yang tak kenal henti. Apapun usaha yang dilakukan oleh perumah tangga sebagai mata pencahariaannya -apakah bertani, berdagang, atau kerajinaan lain- dia terampil dan rajin; dia mencari cara-cara yang sesuai dan mampu bertindak serta mengatur segalanya dengan tepat.

2. Pencapaian perlindungan. Di sini, seorang perumah tangga membuat perlindungan dan penjagaan terhadap kekayaan yang diperoleh dengan perjuangan yang penuh semangat, yang dikumpulkan dengan kekuatan tangannya, dihasilkan dengan peluh di dahinya, kekayaan sah yang telah diperoleh dengan benar, sambil berpikir: ’bagaimana aku bisa mencegah agar raja-raja dan bandit-bandit tidak mengambilnya, dan pewaris yang tidak kukasihi tidak mengambilnya.

3. Persahabatan yang baik. Di sini, di desa atau kota manapun perumah tangga itu tinggal, dia berteman dengan para perumah tangga dan putra-putranya -baik muda atau tua- yang matang dalam moralitas, mantap dalam keyakinan, kedermawanan, dan kebijaksanaan; dia bercakap-cakap dengan mereka dan berdiskusi dengan mereka.

4. Kehidupan yang seimbang. Di sini, seorang perumah tangga mengetahui pemasukan dan pengeluarannya, dan mengarah pada kehidupan yang seimbang. Dia tidak menghambur-hamburkan uang, namun juga tidak kikir.
Dengan demikian pemasukan melebihi pengeluarannya, bukan sebaliknya. Sama seperti seorang pandai emas atau pembantunya yang memegang timbangan mengetahui; ‘sekian jauh timbangan ini miring ke bawah, sekian jauh timbangan ini miring ke atas’.
“Kekayaan yang dikumpulkan itu memiliki empat sumber pembuangan; main wanita, mabuk-mabukan, berjudi, dan persahabatan yang tidak baik. Sama seperti sebuah tangki yang memiliki empat saluran masuk dan pembuangan, jika saluran masuknya ditutup dan saluran pembuangannya dibuka, dan tidak ada curahan hujan yang cukup untuk mengisinya, maka dapat diharapkan akan ada pengurangan jumlah air di dalam tangki, bukan penambahan. Seperti itu pula empat hal ini menyebabkan terbuangnya kekayaan yang telah dikumpulkan.  

(Aṅguttara Nikāya VIII, 54)
(16 Agustus 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar