Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

Lima Tanda Kelapukan (Itivuttaka III, 83) "Bhikkhu Indadhiro"

Lima Tanda Kelapukan

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Hendaklah orang berbicara benar, hendaknya orang tidak marah, hendaknya

orang memberi walaupun sedikit kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan tiga cara ini, orang dapat pergi ke hadapan para dewa.

(Dhammapada 224)

Demikian telah dikatakan oleh Sang Buddha, diucapkan oleh seorang Arahat (Yang Maha Suci); yang telah saya dengar:

”Wahai para bhikkhu, ketika tiba saatnya dewa lenyap dari ke-lompoknya, lima macam petunjuk kelapukan muncul:

1. Rangkaian bunga miliknya layu,

2. Pakaiannya menjadi kotor,

3. Keringat keluar dari ketiaknya,

4. Kecemerlangan tubuhnya memudar, dan

5. Dewa itu tidak lagi bergembira di singgasana surgawinya.

Para dewa lain, setelah melihat tanda-tanda pada dewa yang habis masa hidupnya ini, mem-besarkan hatinya lewat kata-kata dalam tiga hal:

'Pergilah dari sini, sahabat, ke alam yang baik. Setelah pergi ke alam yang baik, perolehlah apa yang pantas diperoleh. Setelah memperoleh apa yang pantas diperoleh, mantapkanlah diri di dalam hal itu."

Mendengar ini, seorang bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha:

"Bhante, apakah yang dianggap para dewa sebagai alam yang baik? Apakah yang dianggap para dewa sebagai yang pantas diperoleh? Apakah yang dianggap para dewa sebagai yang pantas untuk dimantapi?"

”Wahai para bhikkhu, kehidupan manusia itulah yang dianggap oleh para dewa sebagai alam yang baik. Bila seseorang memperoleh keyakinan dalam Dhamma (Kebenaran) dan Vinaya (Peraturan Moral) yang diajarkan oleh Sang Tathagata, inilah yang dianggap oleh para dewa sebagai hal yang pantas diperoleh. Setelah keyakinan itu mantap di dalam dirinya, berakar dalam, kokoh dan kuat, tidak dapat dihancurkan oleh pertapa atau brahmana atau dewa atau Mara atau oleh orang lain di dunia ini, inilah yang dianggap telah mantap oleh para dewa.”

Ketika dewa yang telah habis masa hidupnya
Lenyap dari kelompok dewa,
Para dewa lain mendorongnya
Dalam tiga cara dengan kata-kata ini:

’Pergilah sahabat, menuju ke alam yang baik,
Menuju alam manusia.
Setelah menjadi manusia perolehlah keyakinan
Yang tak terkalahkan dalam Dhamma Sejati.

Keyakinan yang dibuat kokoh,
Yang menjadi berakar dan berdiri tegak,
Tidak akan tergoyahkan selama hidup
Dalam Dhamma Sejati yang dibabarkan dengan baik.

Setelah memutus tindakan salah lewat tubuh,
Juga tindakan salah lewat ucapan,
Tindakan salah lewat pikiran dan apa pun lainnya
Yang dianggap sebagai kesalahan,

Setelah melakukan banyak hal yang baik,
Lewat tubuh maupun lewat ucapan,
Serta melakukan kebaikan lewat pikiran
Yang tak terbatas dan bebas dari kemelekatan,

Dengan jasa itu sebagai dasar
Yang diperbanyak lewat kedermawanan,
Engkau harus membuat orang lain mantap
Dalam Dhamma Sejati dan kehidupan suci.’

Ketika para dewa tahu bahwa ada dewa
Yang akan mati dari kelompoknya,
Karena kasih sayang, mereka membesarkan hatinya:
'Kembalilah ke sini, dewa, berkali-kali.'

Sumber: Itivuttaka III, 83

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar